Contoh drama Bahasa Indonesia



Naskah Drama 1: Makna Sahabat

Suasana pagi cerah di SMPN Pelita Harapan Jakarta mengiringi sebuah kisah keempat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. KARA, MIMI, IGO, dan AFIKA, itulah nama mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran jika mereka memiliki ribuan teman. Ke epat sekawan tersebut berbincang-bincang sambil berjalan di koridor sekolah.

IGO : “Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk kumpul-kumpul kita akan tersita buat belajar. Gimana nich?”

MIMI : “Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN. Jadwal shopping, ke salon, creambath, manypadhy, dan pastinya jadwal kencan bareng bakalan ancur. Aduch, bisa-bisa rambut aku rontok nich.”

KARA : “Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka kita tidak akan sibuk belajar.”

MIMI : “Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin.”

IGO : “Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang di omongin KARA itu ada benarnya juga. Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi, bener gak?”

MIMI : “Iya-iya Bu guru. Belum masuk kelas aja sudah dapat ceramah dari Ibu KARA dan Ibu IGO, capek dech.”

AFIKA : “Ha…ha…ha…MIMI MIMI dari dulu penyakit marah kamu gak sembuh-sembuh yach.”
(Dengan nada ngeledek)

KARA : “Maklumlah dia itukan The Queen of Angry in the World.”

IGO : “KARA ini sukanya kok ngledekin aku terus. Kalau ngefans sama aku bilang aja dech.”

KARA : “Ih, gak banget dech.”

Bel masuk kelas berbunyi, merekapun masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah saatnya pulang sekolah.

MIMI : “Guys, mau ke mana nich? Kalian mau langsung pulang atau mau shopping dulu?”

AFIKA : “Maybe, I go home now because I’m tired. Seharian ulangan terus.”

KARA : “Iya sama. Aku juga mau langsung pulang banyak tugas yang harus di kerjakan plus jadwal les aku yang numpuk banget. Maklumlah, aku itukan orang sibuk.”
(Seraya tertawa)

IGO : “Aduch, jadi anak kelas tiga capek banget ya. Dikit-dikit tugas, dikit-dikit ulangan pusing.”

KARA : “Namanya juga sekolah.”

Hari demi hari berganti, namun ada keganjilan dari sikap KARA, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.

MIMI : “Cha, akhir-akhir ini kamu kok sibuk banget yach? Sampai-sampai sahabat sendiri di lupain.”

KARA : “Sorry dech. Akhir-akhir ini aku sibuk ngerjain tugas, les, and belajar buat persiapan UAN nanti.”

IGO : “Yakin kamu nggak bohong sama kita?”

KARA : “Emh, beneran kok. Masak sich kalian nggak percaya sama sahabat sendiri.”

MIMI : “Bukan gitu, akhir-akhir ini kita liat kamu pulang lebih awal, kalau kita ajak kumpul-kumpul, kamu ada aja alasan inilah, itulah, HP kamu juga tidak pernah aktif.”

AFIKA : “Iya, juju raja lagi.”

KARA : “Nggak ada apa-apa kok guys. Sudah jangan di bahas. Nggak ada topik lain yach?”
(Mulai menitikan air mata)

IGO : “Kamu kenapa sich Cha? Cerita dong sama kita.”

MIMI : “Ayo dong Cha cerita sama kita.”

KARA : “Aku nggak kenapa-kenapa kok guys. Kenapa sich kalian nggak percaya?”

AFIKA : “Ugh tau wes. Kamu sudah nggak nganggep kita sahabat lagi.”

KARA : “Iya dech aku cerita.”

AFIKA : “Nah gitu dong. Dari tadi kenapa ceritanya.”

Ternyata KARA ada masalah dengan orang tuanya, dan masalah itu membuat KARA tidak semangat untuk belajar. Saat pulang sekolah IGO, MIMI, dan AFIKA berkumpul di rumah AFIKA.

MIMI : “Guys aku kasian nich sama KARA, dia les uterus.”
(Dengan wajah memelas)

AFIKA : “Emang kamu punya rasa kasian?”
(Dengan nada meledek)

IGO : “Sudahlah nggak usah berantem terus. Tau nggak, kalian itu seperti kucing dan tikus, rebut melulu.”

AFIKA : “Iya aku tau, sorry dech.”

IGO : “Gimana kalau kita tanya ke orang tuanya KARA aja? Jadi kita tau apa yang sebenarnya terjadi antara KARA dengan orang tuanya.”

Akhirnya mereka bertiga datang ke rumah KARA, dan kebetulan pada saat mereka ke rumah KARA, dia sedang les. Setelah mereka dipersilahkan masuk, mereka berbincang-bincang dengan Ibu KARA. Mereka bertiga menanyakan apa yang terjadi antara KARA dengan orang tuanya. Setelah bercerita panjang lebar, dan mereka telah mengetahui apa penyebabnya, mereka mohon undur diri kepada Ibu KARA.Keesokan harinya MIMI, IGO, dan AFIKA menghampiri KARA yang sedang duduk termenung di dalam kelas.


AFIKA : “Woi.”
(Seraya mengagetkan KARA)

KARA : “Apa-apaan kalian ini, bikin aku kaget aja!”

IGO : “Kok kamu jadi nyalahin kita Cha? Kamu sich pagi-pagi sudah ngelamun, kena setan sekolah baru tau rasa kamu.”(KARA, MIMI, AFIKA, dan IGO tertawa bersama)

AFIKA : “Cha, kita sudah tau kenapa akhir-akhir ini sikap kamu jadi aneh.”

KARA : “Kalian bicara apa sich, aku nggak ngerti?”

MIMI : “Ampun dech KARAku sayangku cintaku sahabatku jangan tulalit donk. Sudah jelas kita ini lagi bahas sikap kamu yang berubah 180o.”

IGO : “Bener Cha, kita udah tau semuanya.”

KARA : “Kalian ini ada-ada aja, aku biasa aja kalian malah bilang aku berubah segala. Emang apa yang berubah? Aku tetap KARA yang dulu.”

AFIKA : “Nggak Cha, kaum berubah semenjak kamu punya masalah dengan orang tua kamu.”

KARA : “Emang kalian tau apa tentang masalah aku ini? Kalian itu nggak tau apa-apa!”
(Dengan nada membentak)

AFIKA : “Kamu salah Cha, kita tau semuanya.”

KARA : “Maksudnya kalian tau masalhku dengan orang tuaku?”
(Dengan nada terbata-bata)
MIMI : “Yups betul betul betul.”

KARA : “Tapi gimana kalian bisa?”

AFIKA : “Iya kita tau dong. Kemarin kita bertiga sengaja ke rumah kamu buat tanya masalah ini ke ibu kamu, dan ibu kamu cerita semuanya ke kita.”

KARA : “Napa sich kalian ngelakuin hal ini? Lagian kalian bisa langsung tanya sama aku.”

AFIKA : “Kita ngelakuin hal ini karena kita kasian liat kamu kayak gini Cha?”

IGO : “Kita sudah tanya sama kamu tentang hal ini, tapi kamu cuma bilang ada masalah sama orang tua kamu. Kamu nggak jelasin apa masalah yang sebenarnya. Ya udah kita cari tau aja sendiri.”

MIMI : “Terus kita tanya ke ibu kamu dan kita tau kamu kayak gini karena HP sama fasilitas yang kamu punya di tarik sama ibu kamu kan?”

KARA : “Iya, HP sama fasilitas yang ada buat aku ditarik sama orang tua aku. Karena itu aku nggak semangat belajar, lagian tanpa itu semua rasanya hampa. Untung I-pod aku nggak ikut di sandra.”(Sambil mengeluarkan I-pod miliknya)

MIMI : “What, I-pod baru Cha! Pinjem dong?”

KARA : “Dasar kamu nggak bisa liat barang bagus sedikit.”

MIMI : “Aduch, please dech Cha, tinggal pinjemin aja apa susahnya sich?”

KARA : “Iya ini aku pinjemin, tapi jangan sampai rusak ya?”

MIMI : “Gitu dong, dri tadi napa? Masak pakai ceramah dulu?”

KARA : “Anak ini udah di pinjemin masih aja nyebelin, dasar Miss Lebay.”

IGO : “Kalian ini kok malah rebut soal I-pod sich? Kalian nggak inget kita seKARAng lagi bahas tentang apa?”

AFIKA : “Lebih baik seKARAng kita kembali ke permaslahan awal. Oke?”

KARA, MIMI, IGO : “Oke dech.”

AFIKA : “Menurut aku sikap orang tua kamu ada benarnya juga Cha. Jadi, kamu nggak perlu jadi pendiam kayak gini. Bawa Enjoy aja Cha.”

KARA : “Emang bener. Tapi, tanpa semua itu aku jadi tambah malas belajar karena bosen nggak ada hiburan. Aku sudah cukup tertekan harus belajar terus menerus. Orang tua aku nggak peduli sama aku lagi, mereka selalu nuntut ini, itu tapi mereka nggak mikir gimana perasaanku. Merek hanya tau keinginan mereka harus terpenuhi, tanpa berfikir kemampuan aku. Mereka egois!”(Sambil menangis)

IGO : “Sudah hapus aia mata kamu. Lebih baik seKARAng kita cari jalan keluarnya.”


MIMI : “Aha, aku punya ide, aku punya ide, ide ini bagus, ide ini untuk kita.”


KARA, MIMI, AFIKA : “Apa? Dasar Miss Lebay.”


MIMI : “Emh, bagaimana kalau kita batasi pemakaian fasilitas yang ada. Selama inikan setiap hari,

setiap jam, setiap menit and setiap detik kita selalu tergantung sama fasilitas yang ada.”


KARA : “Bener juga kamu Ra. Aku jadi sadar, kalau kita selalu tergantung sama fasilitas yang kita punya, kita bakalan jadi anak manja dan selalu tergantung sama apa yang ada. Emang susah buat kita merubah kebiasaan yang sudah mengakar di dalam diri kita. Tapi, apa kalian bisa ninggalin itu semua? Biar aku aja yang menjalankan ini semua. Aku punya sahabat seperti kalian juga sudah cukup buat aku. tapi aku masih butuh paling tidak HP sich.”


(Mereka tertawa bersama)


MIMI : “Emh, gimana ya?”


AFIKA : “Aku bisa kok. Ra, inikan ide kamu, kok malah kamu yang jadi ragu sich?”


MIMI : “Uh, tadi aku nggak usul enak yach. Tapi, aku bisa kok. Demi sahabat aku tersayang. Tapi sesekali nggak apakan?”


AFIKA : “Ya nggak apalah. Namanya juga masih proses. Tpi jangan terlalu sering yach?”


IGO : “Intinya kita setuju sama usul MIMI tadi. Lagian selayaknya sahabat sejati itu selalu ada buat sahabatnya yang lagi butuh bantuan. Kamu sedih, kita juga ikut sedih Cha. Karena kita merasa ada yang hilang. Kita juga ngerasa nggak enak kalau kita having fun, tapi kamunya malah sedih, susah, campur aduk dech. Lagian kita juga harus konsentrasi sama UAN. Bener nggak?”


KARA : “Bener, kalau gitu terima kasih ya guys.”


MIMI, AFIKA, IGO : “Sama-sama. Kita sayang kamu Cha.”
(Sambil berpelukan)
Akhirnya mereka berempat menyepakati perjanjian yang tadi diusulkan MIMI. Mereka berharap hal ini dapat memberikan hasil yang baik pada UAN nanti.
Hari demi hari mereka lalui penuh suka cita, dan tidak terasa waktu UAN telah tiba. Pada waktu pengumuman hasil UAN, mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan mereka di terima di SMA yang mereka inginkan selama ini. Sampai SMApun mereka tetap bersama.



Naskah drama ke 2
Penyesalan

Ada suatu Keluarga yang hidup dengan serba kemewahan mereka sering menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting, padahal mereka mempunyai anak yang sangat berbeda sifat dengan orang tuanya, yang baru duduk di kelas 2 SMP, walaupun anaknya sering menasehati kedua oarangtuannya tetapi malahan mereka tidak mau menanggapinya, mereka menganggap omongan anaknya tidak berarti apa-apa baginya, anak mereka juga tidak boleh bergaul dengan orang miskin. sampai pada malam hari di rumah mereka sedang berkumpul dan berbicang bincang di ruang keluarga.
Dhea : Papa ! tadikan mama ke Mall bersama teman arisan Dhea, Dhea melihat perhiasan yang sangat bagus dan langka lho !!! bolehkah Dhea membeli perhiasan itu ??? ( duduk di samping suaminya sambil menarik-narik baju suaminya )
Opan S : Tentu saja boleh, apa sih yang enggak buat Dhea, mau Dhea membeli Tokonya juga papa belikan kok !
Dhea : Wah ! papa baik sekali dengan Dhea terima kasih ya pah !!!
Opan S : Iya mah sama-sama !
Novi A : Dhea, bukankah kemarin Dhea baru membeli kalung berlian ? mengapa sekarang Dhea ingin membeli perhiasan lagi ?
Dhea : Sudahlah biarkan saja, lagi pula Opan S mu mengizinkan Dhea untuk membelinya kok !! memangnya kamu ingin membelinya juga ?
Novi A : Tidak-tidak, tapi mah… itu kan sama saja kita melakkan pemborosan, apa lagi Dhea kan setiap hari selalu mejeng diMall bersama teman arisan Dhea
Opan S : Sudahlah nak.. tidak apa-apa selama kita masih hidup berkecukupan, kita boleh kok melakukan atau membeli-beli barang yang kita mau, memangnya kamu mau Opan S belikan apa ?
Novi A: Oh tidak usah pah… terima kasih, tapi apa salahnya kita berhemat, bisa saja saat kita kesusahan dan krisis nanti kita dapat memakainnnya .
Dhea : Helloo ???? jaman sekarang berhemat untuk apa sayang ??? apa kau tidak melihat perusahaan Opan S mu itu ada dimana-mana, seharusnya kamu bersyukur hidup serba berkecukupan seperti ini malah ingin berhemat !!
Novi A: Ya sudahlah mah, aku kan tadi hanya usul saja ! baiklah mah sudah larut malam aku ingi tidur dulu ya ! selamat malam semuanya ( bersalaman kepada kedua orang tuanya )
Opan S : Salamat malam juga sayang, mimpi indah ya nak !!!
Novi A: Iya pah ! ( sambil menuju Kamar )
Pada keesokan paginya mereka bersiap-siap untuk melakukan aktifitasnya masing-masing, anaknya ber Sekolah dan Opan Snya berangkat ke Kantor, di sekolah Novi A mempunyai tiga teman mereka mempunyai sifat yang berbeda-beda ada salah satu temannya yang kurang mampu tetapi sangat baik hati, pintar, ramah rendah hati dan percaya diri, sedangkan dua temannya itu memliki sifat yang sombong, suka memilih-milih teman, jahat,,memang mereka berdua adalah orang yang serba berkecukupan,sampai padasuatu hari di sekolah ada sedikit perselisihan dan kebetulan juga mereka sekelompokuntukmengerjakan tugas Sekolah.
Novi A: Hai bagaimana ini, kita kerja kelompoknya kapan ? sebentar lagikan tugas Sekolahnya akan seger dikumpulkn.
Hendri :Wah ia juga ya,bagaimana jika nanti sehabis pulang Sekolah, tetapi kita berkerja kelompok dimana ?
Anggih :Yang pasti kita jangan bekerja kelompok di Rumah Hendri, Rumah dia kan kecil dan kumuh,laginkan aku nggak boleh sama orang tua aku jika bermain ketempat kumuh-kumuh seperti itu .
M. Adi : Iya betul sekali itu pastikan Rumah Hendri itu bau banget dan sempit sekali, pokoknya aku tidak akan mau kerja kelompok jika dirumah Hendri !
Novi A : Teman kalian jangan ngomong seperti itu, belum tentu apa yng di ucapkan kalian itu benar, lagiankan tujuan kita itu untuk belajar bukan untuk bermain !
Hendri : Sudahla tidak apa-apa perkataan mereka itu benar kok,kalu kita belajar di tempat yang tidak nyaman kan juga mempengaruhi tugas kita juga .
M. Adi: Bagaimana kalau di Rumah Novi A saja !
Anggih: Iya aku setuju, Opan S dan Dhea aku kan kenal dekat dengan orang tua mu Novi A!
Novi A : Ya sudahlah, kalian langsung ke Rumah ku ya, nanti aku di jemput dengan mobil, kalian bisakan ?
Hendri : Okelah !
Bel pulang Sekolah pun berbunyi mereka bersiap-siap untuk ke Rumah Novi A, Novi A sudah dijemput oleh supir pribadinya, mereka semua pun langsung menuju Rumah Novi A. Sampai di sana Dhea Novi A sedang membaca-baca buku.
Novi A : Dhea aku pulang ! ( mencium tangan Dheanya )
Dhea : Sayang kamu sudah pulang, wah teman-teman mu kok pada kesini emangnya ada acara apa ?
Novi A : Mau kerja kelompok mah !
M. Adi : Selamat Siang tante ! ( mencium tangan Dheanya Novi A)
Dhea : Iya selamat Siang !!!
Anggih : Tante selamat Siang, (mencium tangan Dheanya Novi A )
Dhea : Iya selamat Siang juga….
Hendri : Tante, selamat Siang !(mencium tangan Dheanya Novi A)
Dhea : Iya selamat Siang juga !Ayo semua masuk jagan malu-malu silahkan duduk!
Hendrii : Terima kasih tante !
Novi A : Teman-teman ku tinngal sebentar dulu ya!
Hendri : Oh….. yasudah !!
Dhea : Kalian mau minum apa ?
Anggih : Oh tidak usah tante terima kasih banyak!
M. Adi: Iya tante tidak usah, jadi merepotkan !
Dhea : Oh tidak kok !
Agak lama kemudian Novi A pun datang, dia baru saja mengganti baju ! lalu bekajar pun dimulai, pada saat belajar Novi A dan Hendri sangat serius,tetapi Anggih dan M. Adi malah asyik bermain dam mengobrol- ngobro ! hingga terjadi perselesihnan.
Hendri : Hai kalian jangan bisanya santai-santai saja ! cepat bantu aku dan Novi A menyelesaikan ini semua agar cepat selesai .
Hendri : Iya kalau kalian santai- santai seperti ini akan kulaporkan pada pak guru lho !!
Anggih : Cerewet sekali kalian berdua aku itu lelah dan capek !
M. Adi : Lagian kan tugasnya mudah sekali, kita berdua hanya ingin beristirahat sebentar saja kau jangan emosian gitu dong !
Novi A : Siapa coba yang emosian, aku hanya memperingati kau saja kok.
Hendri: Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi, nanti kita tidak bakal selesai nih mengerjai tugasnya kan besok harus di kumpulkan !
Anggih : Baiklah !
Mereka mengerjakan tugas sekolah hingga larut malam Anggih dan M. Adi menunggu jemputan di Rumah Novi A, sedangakan Hendri pulang dengan berjalan kaki. Pada saat Anggih dan M. Adi menunggu jemputan, Opan S Novi A pun datang, mereka berdua pun mengobrol-mgobrol dengan kedu orangtuanya Novi A tentang si Hendri, pada saat mengobrol Aulia sedang Kamar.
Dhea : Kalian belum juga di jemput ?
M. Adi : Belum tante sedang di perjalanan !
Dhea : Apa perlu supir tante yang mengantarkan kalian pulang ?
Anggih : Oh.. tidak usah tante, lagian juga supir aku sedang di perjalanan !
Opan S : Sepertinya om pernah meliat kamu ! (berbicara dengan Anggih)
Anggih: Iya om aku anaknya pak Bastian pemilik perusaan Mobil terkenal itu lho…
Opan S : Oh iya om ingat sekali dia itu kan temn kerja om !
Anggih : Saya juga tau om.. Opan S aku kan sering cerita sama aku !
Opan S : Om nitip salam ya buat papa kamu !
Anggih : Oke om !
Opan S : Terima kasih ya, oh ya om mau kebelakang dulu ya !
Dhea : Oh ternyata kamu itu anaknya pak Bastian ya !
Anggih : Iya tante !
M. Adi : Wah sepertinya jemputan ku sudah datang nih ! tante aku pulang dulu ya terima kasih banyak tante, Anggih aku pulang duluan ya !
Dhea : Oh iya sama-sama hati-hati ya, lain kali main kesini lagi ya ! (melambai-lambaikan tangannya)
Anggih: Iya, hati-hati ya !
M. Adi : Iya tante !!! (melambai – lambaikan tangannya)
Setelah M. Adi pulang., Dheanya Novi A bersama Anggih membicarakan kehidupannya Hendri.
.
Dhea : Tadi anak laki-laki itu siapa namanya ?
Anggih : Oh itu namanya Hendri tante, memangnya ada apa dengan dia tante ?
Dhea :
Sepertinya dia beda ya dengan kalian semua, maksudnya tante itu dia dekil seperti orang miskin !
Anggih : Emang benar tante dia itu orang miskin, aku saja malu sekelompok sama dia, dia itu bau tante ! Rumahnya saja kumuh dan kecil sekali,
Dhea : Wah menjijikan sekali , jangan sampai lah Novi A bermain dengan anak itu!
Anggih : Tante, Novi A itu kalau di Sekolah selalu bermain bersama Hendri, kita saja udah sering bilang ke Novi A untuk jangan bermain bersama Hendri tapi tetap saja Novi A tidak mau mendengar kata-kata aku !
Dhea : Baiklah nanti tante saja yang akan bicara dengan Novi A !
Anggih : Tante itu dia jemputan ku sudah datang. Aku pulang dulu ya tante terima kasih banyak ya …
Dhea : Iya terima kasih kembali, lain kali main kesini lagi ya !! (melambai-lambaikan tangannya)
Pada malam harinya Opan S dan Dheanya Novi A memperingati
Novi A untuk jangan bermain dengan Hendri, tetapi Novi A tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya.
Dhea : Novi A! kemarilah ada yang ingin Opan S dan Dhea sampaikan kepada mu !
Opan S : Novi A kemarilah sayang !
Novi A : Iya pah ! mah ! ada apa ? sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan kepadaku ! (berjalan menghampiri Dhea dan Opan S nya)
Opan S : Sini duduklah di samping Opan S !
Novi A : Ada pah! Mah! ?
Dhea : Kamu ingat tidak dulu Dhea sudah pernah bilang kepada mu untuk tidak boleh bermain bersama anak miskin !
Novi A : Jadi ini yang ingin Opan S dan Dhea sampaikan ? mengapa sih mah pah aku tidak boleh bermain berama Hendri ? dia itu anak baik- baik dia juga pintar dalam segala pelajaran
Opan S : Bukan begitu Novi A , bisa saja dia itu jahat , memang dia pintar dalam segala pelajaran, jadi kamu dekat dengan dia itu karena dia pintar ?
Novi A : Iya juga pah, dia itu juga baik, rendah hati, tidak sombong, maka dari itu aku ingin bermain dengan dia !
Opan S : Pintar ? Opan S bisa menyewa guru atau orang paling pintar untuk mengajari kamu, banyakkan teman yang lebih baik dari pada dia !
Novi A : Tidak pah, dia adalah teman terbaikku !
Dhea : Cukup sudah Novi A, kesabaran Dhea sudah hilang, Dhea tidak mau mendengar alasan kamu lagi ! ( membentak dan berdiri dari duduknya )
Novi A : Baiklah kalau mau Dhea seperti itu, Dhea dan Opan S tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk, hanya bisa menilai orang dari kaya dan miskinnya saja !
Dhea : Beraninya kamu bicara seperti itu !! (hampir menampar Novi A dan sempat di tahan tangannya oleh Opan S )
Opan S : Sabar Dhea !
Novi A : Tampar Novi A mah silahkan ! (menangis dan sambil membentak Dheanya)
Opan S : Novi A cepat kamu masuk kamar
Novi A : Baiklah ! kalau itu mau Dhea aku akan menurutinya, demi kebaikkan Dhea. (meninggalkan Opan S dan Dheanya)
Keesokan pagi harinya di Sekolah Novi A pun pada saat istirahat tidak mengobrol dan bermain bersama Hendri lagi, tetapi bermain bersama Anggih dan M. Adi, tetapi Novi A sebenarnya terpaksa melakukan hal ini.
Novi A : Anggih kita ke kantin yuk !
Anggih :Tumben kau mau bermain bersama kita ! ada apa dengan mu ?
Novi A : Tidak apa-apa kok, memangnya aku tidak boleh bermain dengan mu?
M. Adi : Ya.. aneh aja biasanya kan kamu bermain bdengan Hendri !
Novi A : Tidak, aku tudak mau bermain dengannya lagi!
M. Adi : Memangnya kenapa ?
Novi A : Sudah lah jangan banyak omong, aku sudah malas membicarakannya lagi !
Anggih : Hahhahaha bagus ! gue suka gaya lo !
Pada saat bermain Hendri pun menghampiri Novi A, Anggih, dan M. Adi yang sedang asyik bermain, tetapi mereka malah mengusir
Hendri :teman-teman bolehkah aku ikut bermain bersama kalian ?
Anggih: Apa iku bermin bersama kita hahaha… nyadar dong !
Hendri : mamangnya ada apa dengan aku ?
M. Adi :kamu udah bau, dekil, kumel, jorok, jelek mirip Sarimin topeng monyet juga masih ga nyadar ?
Hendri :aku itu salah apa sih sama kalian sampai-sampai kalian menjauhi ku ?
Anggih : masih kurang jelas juga ? (membentak Hendri )
M. Adi : Dasar bdoh !!!
Hendri : Dan kamu Novi A mengapa tiba-tiba kamu menjauhi ku?
Novi A : Karena…????
Hendri : Mengapa Novi A jawab pertanyaa ku !!!!
Anggih : Udah sana pergi !!!
Hendri : Anggih aku ini berbicara dengan Novi A bukan dengan kamu!
Novi A:hmmm…. Kamu Tanya saja kepada mereka !!!
Hendri : Novi A ku mohon jawab pertanyaan aku !
M. Adi : Apa belum jelas apa yang udah aku omongi tadi ?
Hendri : apakah semua itu benar Novi A ?
Novi A : sudah cepat kamu pergi! (membentak dan mendorong Hendri hingga terjtuh)
Hendri : Baiklah kalau itu yang kalian mau aku akan pergi !
Pada saat itu Novi A sangat menyesal atas semua perbuatn yang ia lakukan pada Hendri. Pada saat itu Hendri ketempat yang sangat sepi dari orang-orang dia merenungkan sesuatu hal yaitu mengapa teman-temannya menjauhinya.
Hendri : Mengapa teman-teman menjauhi aku ? sebenarnya salah aku itu apa ? apa karena aku miskin, jelek ? aku benar-benar tidak tau apa yang menyebabkan mereka semua menjauhi ku !! apa lagi dengan Novi A tiba-tiba tanpa ada sebab dia menjauhi ku… berarti sekarang aku harus bergaul dengan orang yang selevel dengan ku, bukan bersama Novi A, Anggih, dan M. Adi mereka semua kan orang kaya tidak sepeti aku, yang bisanya menyusahkan orang lain saja.
Pada saat pulang Sekolah Novi A bersama Keluargannya pergi bersenang-senang ke Mall membeli-membeli belanjaan sangat banyak sekali menghabiskan uang banyak sekali, sebenarnya Novi A tidak suka melakukan hal ini karena dipaksa oleh orang tuanya.
Novi A : Dhea kita pulan saja yuk kita sudah berbelanja barang-barang banyak sekali nih
Dhea : Iya juga sih kam tdak mau membeli apa-apa lagi nih ?
Opan S : Iya Novi A kamu tidak ingin membeli apa-apa lagi ?
Novi A : Sudah pah, aku tidak ingin membeli apa-apa lagi !
Opan S : Ya sudah ayo kita pulang !!!
Pada saat sampai di Rumah, Novi A pun beristirahat pada saat itu Dheanya dan pembantunya sedang tidak masak untuk makan malam, akhirnya Novi A pergi keluar Rumah untuk membeli makanan sendirian dan pada saat itu Novi A bertemu dengan Hendri yang sedang berjalan sendirian membawa buku, dan tidak sengaja mereka bertabrakan.
Brukkk !!!!!!
Novi A : Aduh, bagaimana sih kamu seharusnya kalau jalan tuh jangan meleng dong gimana sih !!!
Hendri : Aduh maaf ya aku tidak sengaja ! (membereskan bukunya yang jatuh)
Novi A: Iya tidak apa-apa kok !
Hendri: Eh Novi A kamu mau kemana ?
Novi A : aku ingin membeli makanan, kamu mau kemana ?
Hendri : aku tadi habis mambawakan makanan untuk orang tia ku yang sedang berjualan, sambil membantu-membantu di sana !
Novi A : Tetapi megapa kamu membawa buku ?
Hendri: Oh iya tadi aku sambil membaca buku !
Novi A : Wah kamu rajin sekali ya!
Hendri : Tidak ah biasa sja !
Novi A: Oh ya suda aku mau membeli makanan dulu ya !
Hendri : Oh yasudah hati-hati ya !
Keesokan harinya sepulsang Sekolah Novi A mendapakan berita buruk dari orang tuanya yaitu, ternyata perusahan yang dimiliki oleh papanya bangkrut Novi A dan Keluarganya sangat sedih, sampai-sampai Rumah yang ia tempati bersam Keluargaya pun juga disegel oleh Bank, mereka tidak tau harus kemana lagi, merekapun akhirnya mengontrak disebuah rumah kecil, mamanya sangat tidak bisa menerima ini semua.
Dhea : Aku tidak menyangka bisa terjadi hal seperti ini, semua perhiasan Dhea koleks-koleksi Dhea yang Dhea beli di luar negeripun juga di ambil oleh Bank.
Opan S : Sabar mah. Ini cobaan yang berat untuk kita!
Novi A : Coba saja dulu kita menabung pada saat ini kan bisa terpakai, maksud aku itu ini, jadi pada saat krisis seperti ini bisa terpakai!
Dhea : Iya Dhea sangat menyesal sekali, tapi sekarang kita ingin tinggal dim
ana ??
Opan S : Sudah kita cari saja kontrakan yang murah…
Dhea : Memangnya paah punya simpanan uang ?
Opan S : Alhamdulillah papa masih punya simpanan uang !
Setelah mereka mencari-mencari kontrakan akhirnya mereka mendapatkan kontrakan yang kecil dan murah. Pada keesokan harinya Novi Apun Sekolah. Sesampainya di Sekolah ternyata teman-teman Novi A sudah tau bahwa Keluarganya Novi A jatuh miskin, dan mereka mengejek-ngejek Novi A.
Anggih : Eh…. Lihat… ternyata seorang anak orang kaya, sekarang sudah jatuh miskin… hahahaha
M. Adi : Huu… pasti orangtuanya mendadak bangkrut, karena mempunyai banyak hutang !!
Hendri : Eh… Kalian jangan begitu dong… kalian itu bukan sahabat yang baik, saat Novi A susah seharusnya kalian menghibur bukan malah mengejek !!
Anggih : Apa ?? bersahabat dengan dia ga salah denger, kapan kita bersahabat dengan dia kayanya ga pernah tuh…!!1
Novi A : Anggih… kamu jangan kaya gitu dong !!! kitakan pernah bersahabat
M. Adi : Aku cuman bersahabat dengan Novi A yang kaya raya, bukan Novi A yang anak miskin!
Hendri : Sudah Hendri kita pergi saja tidak ada gunanya ngomong sama anak kaya raya yang sombong.
Lalu Hendri dan Novi A pun pergi ke kantin…
Novi A : Hendri kamu kenapa membela aku ? padahalkan dulu Keluarga ku pernah mencela kmu ?
Hendril : Aku tidak pernah memikirkan apa yang pernah papa dan mama kamu katakan pada ku dan lagi pula aku tau sebenarnya kamu dipaksa oleh orangtua mu untuk menjauhi aku !!!
Novi A : Kau memang sahabat ku yang baik !!!
Saat pulang Sekolah dan sesampainya di Rumah…!!!
Novi A : Assalamualaikum !
Dhea : walaikumsalam !
Novi A : Opan S kemana mah ?
Dhea : Opan S pergi mencari pekerjaan, sudah kamu makan sana !
Novi A : Iya mah…
Dhea : Sayang kamu tau ga tadi Malam Dhea tidur digigit nyamuk… kamu gimana pasti kamu juga terganggu kan ?
Novi A : Iya sih mah tapi mau bagaimana lagi, ini cobaan untuk kita tadi di SEkolah di ejek-ejek orang miskin !
Dhea : Apa ? siapa yang mengejek kamu orang misin ? kurang ajar!!
Novi A : Biarkan sajalah mah…. Kitakan dulu juga bersifat seperi itu kepada orang yang kurang mampu !
Dhea : Sudahlah biarkanlah seperti itu yang lalu biarkanlah berlalu nasi telah menjadi bubur!
Novi A : Ya sudah mah aku sudah lelah mau tidur dulu !!!!!!!
Pada malam hari Opan Snya pun datang, lalu Dheanya pun menceritakan kejadian yang telah di alami Novi A di Sekolah.
Dhea : Pah, tadi di Sekolah Novi A diejek oleh teman-temannya oaring miskin !
Opan S :Dhea ini semua salah kita, seharusnya pada sat kita kaya dulu kita rajin menabung bukan menghambur-hamburkan uang, jadinya seperi ini deh kita susa dan tidak mempunyai uang !
Dhea : Iya pah Dhea juga menyesal atas kelakuan Dhea yang sering menghambur-hamburkan uang, mama juga menyesal telah menghina orang miskin.
Opan S : Ya sudah lah mah..! kita menitip salam permintaan maaf saja kepada Novi A untuk Hendri !!
Dhea : Oh iya benar juga pah !
Opan S : Mah maaf ya hari ini Opan S belum mendaptkan pekerjaan !!!!!
Dhea : Tidak apa-apa kok pah ! kita harus berusaha lagi !
Opan S : Sudah larut malam, ayo kita tidur mah !!!
Pada keesokan Pagi harinya Opan S dam amah Novi A menitip permintaan maaf untuk Hendri kepada Novi A.
Dhea : Novi A, Dhea mau menitip permintan maaf kepda Hendri ! (di depan pintu )
Opan S : Novi A, Opan S juga ya..!!
Novi A : Iya nanti akan kusampaikan kepda Hendri, aku senang sekali Dhea dan Opan S mau minta maaf kepada Hendri, mah pah aku berangkat dulu ya…!!!!
Dhea : Iya hati-hati ya nk !!
Pada saat sampai di Sekolahan, Novi Apun menyampaikan kepada Ikla atas permintaan maaf dari Opan S dan Dheanya.
Novi A : Hendri ! aku ingin menyampaikan permintaan maaf Dhea dan Opan S ku atas kesalahan yang telah membuat hati mu terluka !
Hendri : Tidak apa-apa kok Novi A. Aku sudah memaafkannya, syukurlah mereka sadar.
Novi A : Terimakasih ya, kmu memang sahabat terbaik ku !
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Hendri pun pulang, Ia melewati Rumah M. Adi yang ternyata kebakaran, ia pun memberitahukan pada Novi A dan Anggih atas musibah itu.
Hendri : Astagfirullah Rumah M. Adi kebakaran… aku harus memberi tahukan pada Anggih !
Ketika menuju Rumah Anggih, ia bertemu dengan Novi A.
Novi A : Ada apa Kal ? kamu sepertinya terburu-buru sekali !!
Hendri : Ru…ru…ru.. Rumah M. Adi kebakaran !!
Novi A : Yang benar kamu ??
Hendri : Benar aku tidak bohong !
Novi A : Ayo kita beri tau Anggih !
Ketika sampai di Rumah Anggih.
Hendri : Assalamualaikum !!! Anggih !!!
Novi A : Anggih !!!
Anggih : Ada apa sih Novi A anak miskin di bawa keRumah ku ?
Novi A : Jangan begitu Anggih, kamu hargai teman mu dong !!
Hendri : Kamu jangan salah paham dong kita berdua kesini ke Rumah kamu tuh pingin beri tau doing, bahwa Rumah M. Adi kebakaran.
Anggih : apa ? kebakaran ?
Hendri : Iya benar cepat kita ke Rumah M. Adi ! (lari keluar panggung )
Mereka bertiga menuju Rumah M. Adi. Sampai di Rumah M. Adi.
M. Adi : Ngapain kalian kesini ? kalian mau menghina ku ya, karena Rumah ku kebakaran dan menjadi orang miskin ?
Hendri : Tidak kok, kami hanya ingin melihat keadaan mu saja, kamu baik-baik sajakan ?
M. Adi : Tidak jangan mendekat, kalian senangkan melihat aku seperti ini ?
Anggih : Kamu sabar ya, mungkin ini cobaan untuk kamu !!!
M. Adi : Kamu bisa bicara seperti itu ? kamu tidak merasakan apa yang kurasa sekarang ini !
Hendri : Sudahlah M. Adi, mungkin ini cobaan untuk kamu yng tabah ya !
M. Adi : Terimakasih ya atas suportnya aku minta maaf ya selama ini aku sering berbuat jahat kepada kalian berdua, aku sering menghina.
Anggih : Iya kal, aku juga mintaa maff ya aku sudah mempermalukan mu.
Hendri : Sudahlah aku sudah memaafkan kalian kok, lupakan yang kemarin, kita buka lembaran baru.
Novi A : Nah gitu dong, coba aja dari dulu kayak gini pasti asyik, gak ada yang saling megejek.
Anggih : Sekarang keta berteman ya…!!!!
Hendri : tentu !!!









Naskah drama ke 3
PLAY BOY

Pada suatu hari di Sekolah SMP sejahtera Bandung,di Sekolah itu ada seorang laki-laki yang selalu mempermainkan wanita ( play boy ),orangnya itu ganteng dan tajir,gara-gara semua itu dia menjadi play boy dia bernama Raka.Dia mempunyai teman-teman yang bernama Arya dan Rio.Dan sekolah itu ada juga ada seorang cewek yang cerewet dan pemarah,dia mempunyai teman cowok dan cewek bernama Chiko dan Franda,cewek pemarah itu bernama Jesica.

Pada suatu pagi di Sekolah ketika Raka berjalan,Raka dengan tidak sengaja menabrak Jesica.

Jesica : Siapa sih woy maen tsbrsk aja ?

Raka : Sorry gue gk sengaja..!!

Jesica : Makanya kalau jalan itu pake mata donx..!!

Raka : Kenapa sih lo harus marah-marah sambil nyolot lagi,,! Kan gue dah minta maaf..?

Jesica : Lo itu yang nyolot..(sambil melotot ke Raka)

Tak lama datanglah seorang perempuan dan ternyata dia temannya Jesica yaitu Franda.

Franda : Sudahlah Jesica jangan berantem..!!

Jesica : Tapi dia duluan yang ngajak berantem ..!!

Raka : Lo tuh …!! (sambil nunjuk Jesica )

Jesica : Lo…!!!

Franda : Sudahlah,,,mendingan kita pergi saja ( Jesica dan Franda pun pergi )

Tak lama kemudian datanglah Rio dan Arya temannya Raka

Rio : kenapa lo ?

Arya : habis di marahin cewe ya ? ( mereka berdua pun tertawa )

Raka : Sialan lo berdua !

Rio : Habisnya lo sih kalah sama cewe

Raka : Bukannya gue kalah, tapi gue ngalah aja ! ( merekapun berbincang-bincang sambil berjalan )

Keesokan harinya Raka dan Jesica bertemu lagi, saat hesica berjalan dengan chiko ( si cowo culun ) dan Peranda. Raka pun tidak sendiri dia bersama temannya rio dan arya

Raka : idih …! Pacarnya culun banget ( Raka dan kedua temanya tertawa )

Jesica : ngomong apa lo ! ( sambil mendorong badan Raka )

Raka : Biasa aja kali ! dia kan cowo lo

Jesica : kalo ia emank kenapa ?

Raka : ga papa,,

Jesica :kirain lo cemburu sama dia ! ( sanbil nunjuk ke chiko )

Raka : gue itu masih normal kali

Jesica : ya udah lo diem aja !

Chiko : sudahlah jesica jangan berantem

Franda `: lo itu ya, slalu aja cari masalh terus

Rio : emang lo siapanya dia ? ( sambil nunjuk jesica )

Franda : gue temenya, emang kenapa ?

Arya : kirain lo cewe keduanya dia ( sambil nunjuk chiko )

Semua temenya raka tertawa terbahak-bahak

Jesica : emang kalian ga ada kerjaan lain apa, selain menertawakan dan melecehkan orang lain ?

Rio : “ loe tu gak tau, siapa itu ?

Jesica : dia itu cumin cowo yang sombong dan sok ganteng, padahal wajah dia itu gak seganteng yang dia kira. Dia itu Cuma terlalu ke pedean aja

Arya : loe jangan sok tau

Tiba-tiba franda berbisik kepada jesica

Franda :Dia itu cowok yang paling tajir di sekolah ini, dia itu sekaligus playboy

Jesika : ooooh...Jadi loe itu cowok playboy yang so’ tajir dan gak tau diri..?!

Raka : bilang apa loe..?

Jesika : cowok tajir dan playboy yang gak tau diri

( chiko, franda dan Jesika pun tertawa sambil pergi )

“Ketika Chiko sedang sendiri dan duduk di atas kursi, tiba-tiba Rio dan arya datang”

Rio : Hayy Chiko

Chiko : Mau apa kalian?

Arya : Ga apa-apa

Chiko : Terus...Mau apa kalian kesini?

Rio : Cuman pengen main sama kamu ajja..

Chiko : Aku lagi ga mau di ganggu

Arya : Jangan begitu chiko..

Chiko : Pergi sana kalian

Rio : Ia baik kita akan pergi

“ keesokan harinya Jesika dan Raka lagi jalan bersama ke-2 teman-temannya”

Raka : Tersenyum sambil nengok sama Jesika

Rio : Tumben loe ga berantem

Arya : Iaa...biasanya setiap ketemu dia selalu berantem

Raka : Diam loe semua. “mendingan loe semua perhatiin dia aja!”

( emang ada yang aneh ) serentak Rio dan Arya

Raka : Lihat aja “Ternyata dibalik semua sikap dia, dia mempunyai satu keistimewaan”.

( raka, rio dan Arya pun memperhatikan Jesika yang sedang berbincan-bincang sama Chiko dan Franda )

Franda : “koq”..Sekarang loe ga berantem lagi sama dia?

( sambil nengok ke Raka )

Chiko : Iaa...tumben bangedt..?!

Jesika : Kalau gue lagi berantem, loe pisahin gue. Tapi giliran gue gak berantem loe malah nyuruh..

Franda : Bukannya gue nyuruh berantem, tapi gue Cuma nanya

“ Keesokan harinya mereka bertemu kembali “

Raka : heyyyy Jesika ( sambil tersenyum)

Jesika : iiikhhh...Loe SKSD bngdt

Raka : Kenapa sech loe setiap ketemu gue galak bangedt??

Jesika : abisnya loe nyebelin

Raka : Tapi kan loe suka sama gue?!

Jesika : Kata sapa gue suka sama loe????? ( sambil cemberut)

Raka : gue tau dari tatapan mata loe ajj!

Jesika : Sok Tau loe..

Raka : Ngaku ajja dekh loe?!

Jesika : Bener gue ga suka ma loe

Raka : Kalo gitu dengerin gue yaaa!

Jesika : mang loe mau apa??

Raka : gue mau gombalin loe...Supaya loe suka ma gue!

Jesika : Coba ajj klo bisa!

Raka : loe tau ga perbedaan loe ma lukisan???

Jesika : apa bedanya?

Raka : Kalo lukisan nempel di dinding, tapi klo loe nempel d hati gue!

“Nggak lama kemudian teman-teman Raka dan Jesika datang mengagetkan”

Franda : Ciyeee....Jadi ini yang kalian lakukan kalau lagi berdua? (sambil tersenyum)

Jesika : nggak kq..

Rio : kalian berdua tukh kalo lagi sam kita selalu aja berantem, tapi kalo lagi berdua mesra bangedt..!

Raka : kalian ganggu ajj..

Franda : maaf dekhh... Ya udah kita pergi ajj!

Raka : kalian ga usah pergi

Arya : emang mau apa??

Raka : gimana kalo kalian jadi saksi cinta kita aja...Iaa kan Jesika? ( sambil nengok ke jesika)

( Jesika ga jawab,,Dia Cuma diem ajj)

Arya : Ya udah tembak ajj sekarang!

“Raka pun mengungkapkan perasaannya”

Raka : (memegang kedua tangan Jesika) ....Loe mau kan jadi cewe gue??

Jesika : tapi kan loe Playboy

Raka : Gue janji gue gak akan jadi play boy lagi.

Jesika : Ya udah...gue mau jadi cewe loe. Asal loe harus tepatin janji loe itu!

Raka : iaaa...gue akan tepati.

“Raka dan Jesika pun pacaran dan selalu bersama-sama”.
















Naskah drama ke empat :Yang Tak Terduga dari Si Cantik

NARATOR:

Di sebuah sekolah swasta, terdapat seorang siswi yang kecantikannya dikenal seluruh anggota sekolah. Tidak hanya cantik, sisiwi tersebut juga meraih prestasi yang berulang kali membawa nama sekolahnya harum. Ia bernama Astrid. Siswi berusia enambelas tahun itu kini duduk dibangku kelas dua SMA.

Saat bel istirahat berbunyi, TEEEEEEEEEEEET!!!!!

Astrid  : Els, kita ke perpus yuk! (bangun dari tempat duduk sambil menggandeng tangan Elsa)

Elsa     : Ntar dulu, As! Gue lagi bete nih! (Elsa berbicara keras sambil kedua tangannya dibawah dagu)

Astrid  : Ya elah! Bete kenapa sih? Ayo, Els! Gue pengen minjem buku nih! (Bernada memohon)

Elsa     : Dasar lu ah! Ya udah! Tapi sebentar aja. Abis minjem, kita ke kantin.

Astrid  : Mau ngapain?

Elsa     : Jajanlah. Gue mau makan mie ayam.

Akhirnya mereka berdua keluar kelas dan berjalan menuju perpustakaan.

Saat keduanya bergandeng tangan sambil berjalan di koridor sekolah, Astrid berhenti sejenak. Suatu pemandangan “bening” membuat matanya terpaku dan mulutnya membisu.

(Astrid berhenti tiba-tiba. Elsa Terkejut.)

Elsa     : Heh! Kenapa berhenti As?

(Astrid terdiam masih dengan mata yang mengamati seseorang. Di seberang, seorang laki-laki manis tengah mengobrol dengan temannya)

Elsa mengamati temannya baik-baik. Mungkin, suaranya kurang didengar oleh Astrid.

Elsa     : ASTRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIID!!!!!!!!

(Astrid terkejut)

Astrid  : Kenapa sich loe?! Ngagetin orang aja! (bermuka masam)

Elsa     : Abis lu, gue tanya diem aja! Kenapa lu tiba-tiba berhenti? Udak kayak kambing congek tau ga, lu bengong begitu!

Astrid  : Bengong? Emang iya ya?

Elsa     : Au ah gelap!

Astrid  : (lihat ke atas awan) Terang, Els!

Elsa     : BODO AMAT! Budeg lu ye! Kenapa lu tiba-tiba berhenti? (berbicara lebih keras di telinga Astrid)

Astrid  : (menarik lengan Elsa, dan menunjukkan telunjuknya ke arah lelaki manis yang ia tatap tadi) Tuh tuh Si Irwan! Yang gue ceritain itu Els!

Elsa     : (mencari yang ditunjuk) Yang mana As?

Astrid  : Onoh dodol! Liat ga? (menunjuk-nunjuk lagi)

Elsa     : Oooh! Irwansyah. Kenapa? Lu masih naksir sama dia?

Astrid  : Iya lah! Bantuin gue ya Els!

Elsa     : Mmmmh (pura-pura mikir) Tapi, besok lu bawain gue keripik singkong ema lu ya! GRATIS!

Astrid  : Gampang!

Elsa     : 3 bungkus!

Astrid  : Iya! Rumpi amat lu!

Malam harinya, pintu kamar Astrid di ketuk. TOK TOK TOK!

Astrid  : Masuk aja, Ma!

Mama : Kamu lagi ngapain, ndu’?

Astrid  : Baca buku dari perpus. Ma, besok Aas bawa 3 bungkus keripik singkong ya!

Mama : Buat apa?

Astrid  : Buat Elsa. Dia minta.

Mama : Minta? Beli lah. Rugi Mama nih!

Astrid  : Ayolah Ma! Kan sekali aja! Ok Ma!

Mama : Emang kenapa sih? Kok tumbenan Elsa minta?

Astrid  : Udah udah! Ini urusan anak muda

Mama : Eeeeleh! Mama kan juga pernah muda

Astrid  : Dulu. Sekarang kan udah tua

Mama : Apa kau ni! Dah lah! Tidur! Esok kan sekolah!

Astrid  : Oke Ma!

Keesokan paginya, Gilang berlari menyusul temannya Irwan yang hampir sampai ke pintu kelas. Ia terlihat sangat gembira.

Gilang : Woy bro!

Irwan  : Apa com!

Gilang : (bertanya-tanya. Mengerutkan dahi) Com?

Irwan  : BRO! hahahahaha

Gilang : Spik lu ah! Gaul donk Wan! Itu bahasa gaul, MEN!! (dengan gaya rapper)

Irwan  : Tapi, gue suka bahasa indo. Ada apa nih? Gembira banget loe!

Gilang : Loe naksir Astrid kan?

Irwan  : Iya. Kenapa?

Gilang : Liat tuh bro! Cantik gilaaaaa!!!!! Tembak langsung broooooo!! (sambil menunjuk-nunjuk Astrid yang tengah mengobrol bersama Elsa)

Irwan  : (melihat siapa yang ditunjuk Gilang) Emang dia belum punya pacar?

Gilang : Sore-sore Po Nori deg-degan… belum gaaaaaan!! (gaya pantun)

Irwan  : Nenek-nenek makan keripik. Spiiiiiiiiiiiiik! (gaya pantun)

Gilang : Nih bocah dikasih tau! Beneran Wan. Suer gue dah, disamber Sandra Dewi.

Irwan  : Gaya lu, Lang! Sandra Dewi bakal turun pamor, kalo nyamberin elu! Hahahaha

Gilang : Yeeeeee ubi!

Irwan  : Emang lu tau info dari siapa?

Gilang : Bbbbbeuh! Detektif coy! Tau dari siapa, dari mana, RAHASIA!!

Irwan  : Alah! Berhasil ngungkap maling marmut di kampung lu aja udah belagu. Serius gue, Lang!

Gilang : Gue juga Irwansyah! Udeh tenang aje!

Irwan  : Terserah dah! Tapi, gue masih belum bisa nembak dia sekarang. Gue kan lagi sibuk ngurusin pensi.

Gilang : Oh iya. Ok lah! No women no cry!

Irwan  : No problem

Gilang : Bu Siska jualan kedondong. Suka-suka gue dooooooooong! Hahahaha

Sore hari yang dihiasi langit jingga, Astrid tengah berada di depan cermin kamarnya. Entah apa

yang ia lakukan, namun Astrid selalu tersenyum sejak tadi.

Astrid  : (menyanyi Duo Maya – Ku Ingat Kamu)  Aku mau makan, ku ingat kamu….. Aku sedang sedih, juga ku ingat kamu….. Aku sedang bosan, ku ingat kamu… Oh cintaaaaa… inikah bilaku, aku jatuh cintaaaaaaaaaa…..

Astrid  : Aduuuuuuh Irwan! You look so sweet for me (tersenyum, lalu melangkah riang keluar kamar)

Dara muda. Astrid memang dara muda yang sedang jatuh cinta. Namun, meskipun begitu Astrid tetap tidak lupa dengan tugasnya sebagai seorang pelajar yang harus belajar.

Pukul  08:30 Astrid berangkat ke tempat bimbelnya. Sesampainya disana, Astrid segera diajar oleh Bu Hilda, guru bimbelnya yang baik hati dan rajin menabung.

Di ruang bimbel

Bu Hilda         : Astrid, ada PR sekolah hari ini?

Astrid              : Loh? Sejak kapan, bimbel kita pindah jam tayang, Bu?

Bu Hilda         : (bingung sambil berpikir) Pindah jam tayang? Saya kan nggak nanya itu (berbisik di dalam hati)

Bu Hilda         : Bukan Astrid. Ibu bilang, kamu ada PR nggak hari ini di sekolah?

Astrid              : Mmmmmh… (tampak berpikir) Saya lupa deh, Bu!

Bu Hilda         : Tumben kamu lupa. Biasanya kan, kamu selalu periksa PR setelah pulang sekolah

Astrid              : Aduh! Mama saya, nggak bilang tuh kalo ibu pesen keripik singkong

Bu Hilda         : Bukan keripik singkong. PR! Kamu ada PR nggak dari sekolah?

Astrid              : Wah ibu ini! Saya kan lupa Bu! Jangan marah-marah donk Bu. Manusiawi, Bu kalo manusia lupa

Bu Hilda         : PE’EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEER!!!!

Astrid              : Hah? Astaghfirullah ‘al ‘azim..

Bu Hilda         : Loh??? Kenapa??

Astrid              : Tce’.. Lupa Bu! Kalo saya inget, keripik singkongnya juga udah saya bawa

Bu Hilda         : Innalilahiiiiii….

Astrid              : PR?? Wah, ada Bu! Fisika. Saya agak bingung sama rumus yang ada di buku.

(Bu Hilda mengerutkan kening sambil kelelahan)

Astrid              : (sambil mencari buku PR fisikanya, Astrid berbicara) Ibu ini gimana! Bimbel kok ya, nanyain keripik singkong! Harusnya guru bimbel kan, nanyain PR sekolah Bu. Kalo ibu mau pesen mah, bilangnya nanti aja, kalo udah selesai bimbel. Jangan pas awal-awal begini. Aduh Bu Hilda ini. Kadang suka bercanda. (tersenyum)

Bu Hilda yang kelelahan mengatasi murid cantik satunya ini, sedikit kesal. Namun, penyakit “Tuli” yang dimiliki Astrid memang terlewat akut. Karena itu Elsa dan Mamanya yang sudah mengetahui kekurangan Astrid ini, selalu berbicara keras, agar Astrid mendengar apa yang mereka katakan.

Dan pada akhirnya, Bu Hilda yang rajin menabung, mengambil uang tabungannya untuk membeli alat bantu pendengaran yang akan diberikan kepada Astrid saat bimbel berjalan. Sehingga, bimbel mampu berjalan dengan lancar dan baik. Masalah terpecahkan.

Selepas solat dzuhur, Astrid pergi ke ruang OSIS hendak mengambil beberapa dokumen yang diperintahkan olehnya untuk dibawa pulang. Namun, saat Astrid berjalan keluar ruang, Irwan berpapasan dengannya. Mereka pun bertatapan.

(terkejut keduanya)

Irwan  : Eh ……eh.. Astrid. Mau kemana?

(Astrid langsung berjalan pergi meninggalkan Irwan. Irwan nampak heran. Kenapa Astrid meninggalkannya dengan tergesa-gesa?)

Di kelas..

Gilang : Lama banget sih! Ruang OSIS deket juga

Irwan  : Tadi, gue ketemu Astrid! Kita papasan. Gue tanya, mau kemana, malah pergi.

Gilang : Lah? Aneh banget.

Irwan  : Iya sih. Tapi, nggak tahu kenapa. Semakin dia begitu, gue semakin penasaran. Jadi, semakin naksir aja. Hehe

Gilang : Payah dah, cucur!

(Irwan bermuka masam)

Malam hari yang indah karena bulan dan bintang, membuat Astrid selalu terbayang akan wajah Irwan. Ia selalu teringat akan kejadian tadi siang. Namun, terbesit juga di hatinya. Mengapa, Irwan hanya mengucapkan kata “Permisi?”

Astrid  : Pemisi? Haduh! Padahal gue berharap dia nanyain gue mau kemana. Eh, malah permisi doank.  Hufft..

Keesokan harinya di sekolah.

Elsa menggandeng tangan Astrid yang sejak bel istirahat berbunyi hanya terduduk dikursinya.

Elsa     : Ayo, As!

Astrid  : Apaan sih?

Elsa     : Udah, jangan bawel! Cepetan!

Astrid  : Yeee.. nggak jelas lu!

Mereka berdua berjalan menuju taman sekolah yang tak terlalu ramai oleh kerumunan siswa. Di bawah pohon rindang, Irwan nampak berdiri dengan gaya kurang percaya diri. Astrid yang melihat pujaan hatinya disana, tersenyum dan mengikuti aluran cerita yang akan terjadi nanti.

Irwan  : Hai Astrid..

(Astrid diam dan tersenyum)

Astrid  : Hai, Wan.. Kok, kamu disini?

Irwan  : Hehe.. aku mau ngomong sesuatu ke kamu..

(Astrid diam dan tersenyum menunduk)

Astrid  : Kalo kamu masih ada urusan, bisa nanti kok kita ketemunya

Irwan  : Eh nggak nggak! Aku mau ngomong. Aku suka kamu As. Kamu mau nggak jadi pacar aku?

(Astrid mendongak)

Astrid  : Kenapa harus..

Irwan  : Udah lama As, aku mendem rasa ke kamu. Tapi, baru sekarang aku bilang ke kamu

(Astrid menangis)

Irwan  : (heran) Loh, kok kamu nangis?

Astrid  : Aku turut berduka cita ya Wan

(Irwan makin heran)

Astrid  : Kehilangan orang yang kita sayangi memang sedih rasanya. Aku juga sedih banget waktu papaku meninggal (masih menangis)

Irwan  : Hah? Siapa yang meninggal?

Di tempat lain, Elsa dan Gilang nampak heran. Elsa pun teringat, bahwa KB yang diderita Astrid sedang akut akhir-akhir ini.

Elsa     : (menepokkan telapak tangannya ke kening) Mati Gue! Budegnya Akut!

Gilang : (heran) Budegnya akut? (melotot) maksud lu Astrid??? (masih melotot ke arah Elsa)

Elsa     : Iya! Cepet Lang! Sebelum babak belur!

Keduanya segera berlari ke arah Irwan dan Astrid. Elsa menarik lengan Astrid dan membisikkan sesuatu kepadanya. Gilang pun melakukan hal yang sama.

Di kelas, Elsa menghentikkan tangisan Astrid.

Elsa     : Nih! Pasang di kuping loe!

Elsa memberikan alat bantu pendengaran untuk Astrid.

(Astrid menghapus airmatanya)

Astrid  : Buat apa?

Elsa     : Jangan bawel! Cepet pake!

(setelah dipasang, Elsa berbicara lagi)

Elsa     : Si Irwan, lagi nembak lu tau nggak! Kok lu malah nangis!

Astrid  : Nembak gue?

Elsa     : Iya budeg!

Astrid  : Tapi tadi dia bilang, ibunya meninggal!

Elsa     : Laa illa ha illallah! Budeg lu akutnya kelewatan

Astrid  : Budeg? Siapa yang budeg?

Elsa     : Lu! Budeg banget!

Astrid  : Nggak Els! Tadi gue dengernya begitu

Elsa     : Iya! Lu emang dengernya begitu. Tapi, gue, Gilang, dan siapapun yang telinganya normal, pasti denger pernyataan cintanya Si Irwan!

Astrid  : HAH? BERARTI TADI GUE DITEMBAK?

Elsa     : Iya Astrid binti Asrul! Udah, besok biar Si Irwan kirim surat cinta aja ke elu! Biar nggak ada salah paham.

Astrid  : Loh kok?

Elsa     : Berisik banget lu! 3 bungkus keripik singkong nggak cukup buat jadi upah gue untuk bantuin lu dapetin Si Irwan. Hufft!

(Elsa pergi meninggalkan Astrid. Astrid yang masih kebingungan pun mengikuti langkahnya)

Astrid : Els, tungguin gue! Lu mau kemana?

(masih ber-acting)

NARATOR:

Dan pada akhirnya, Irwan memang menuliskan surat pernyataan cinta terhadap Astrid. Tentu, Astrid menerima pernyataan cintanya itu. Mereka berdua pun, resmi berpacaran. Lalu bagaimana dengan prestasi Astrid? Apakah dengan berpacaran, ia malah menurun? Tentu tidak. Justru Astrid semakin bersemangat meraih prestasi, karena dukungan dari pacar idamannya Irwan.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments

Silahkan berkomentar sesuai tema. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau titip link, akan dimasukan ke folder SPAM. ConversionConversion EmoticonEmoticon